Saturday, 1 October 2011

Siapalah Aku

Kalaulah aku..
seekor burung..
akan aku terbang tinggi...
tapi tak mungkin... tak mungkin...
kerana aku adalah aku...
seorang insan yang lemah..


Kalaulah aku..
seekor ikan...
akan aku berenang di lautan dalam...
tapi tak mungkin... tak mungkin...
kerana aku adalah aku...
seorang insan yang lemah...


Kalaulah aku...
sekuntum bunga...
akan aku hiasi dunia seindah yang mungkin...
tapi tak mungkin... tak mungkin...
kerana aku adalah aku...
seorang insan yang lemah...


Kalaulah aku air...
akan aku sirami Kuala Lumpur ini...
yang sedang diCATU air...
tapi tak mungkin.... tak mungkin...
kerana aku adalah aku...
seorang insan yang lemah...


Kalaulah aku...
Kalaulah aku...
Kalaulah aku...


kelakar..kelakar...
kalaulah aku...


Ahh mengarut semua itu...
Yang harus dihadapi ialah realiti bukan
fantasi....


cetusan minda


Di dalam mentari terpercik misteri
lambaian wajah umpama bidadari
kucapai namamu tegak baiduri
didalam lamunan kita menari
mimpi pasti,
datang dan pergi
namun pepohon tetap teguh
walau berbuah ranting rapuh
teguh matlamat jiwa utuh
disimbah racun tidakkan luru

Friday, 15 July 2011

Aku Silih Bagi Kekasihku

Seperti langit yang terkoyak oleh petir
Seperti itulah batinku ketika kau mangkir
Manisnya cinta bercampur pahit getir
Bayangan dirimu seakan abadi terukir

Cintamu semu bagaikan pelangi
Begitu indah namun hanya ilusi
Jeritan dan rintih tiada arti
Kami kau tinggalkan melirih

Jiwaku kosong ketika ia pun pergi
Aku sekarang sendiri
Menatap langit dengan air mata tak henti
Langit pun menangis tiada henti
Menggantikan aku yang lelah menanti

Hampa mendera diriku
Dendam marah dan benci meliputi auraku
Namun apa dayaku
Harus kuterima kenyataan tentang dirimu

Masih teringat jelas di benakku
Kau serahkan aku sebagai silih dirimu
Tanpa rasa iba kau tidak membelaku

Sayatan demi sayatan ku terima
Seluruh jiwaku terluka
Kau melihatku dengan mata terbuka
Tanpa mengucap sepatah kata

Kini aku hanya bisa mendengar nafasku
Yang terengah-engah mengais setitik hidup yang hampir sirna
Aku letih ya Tuhan, biarlah aku melepasnya
Seperti langit yang terkoyak oleh petir
Seperti itulah batinku ketika kau mangkir
Manisnya cinta bercampur pahit getir
Bayangan dirimu seakan abadi terukir

Cintamu semu bagaikan pelangi
Begitu indah namun hanya ilusi
Jeritan dan rintih tiada arti
Kami kau tinggalkan melirih

Jiwaku kosong ketika ia pun pergi
Aku sekarang sendiri
Menatap langit dengan air mata tak henti
Langit pun menangis tiada henti
Menggantikan aku yang lelah menanti

Hampa mendera diriku
Dendam marah dan benci meliputi auraku
Namun apa dayaku
Harus kuterima kenyataan tentang dirimu

Masih teringat jelas di benakku
Kau serahkan aku sebagai silih dirimu
Tanpa rasa iba kau tidak membelaku

Sayatan demi sayatan ku terima
Seluruh jiwaku terluka
Kau melihatku dengan mata terbuka
Tanpa mengucap sepatah kata

Kini aku hanya bisa mendengar nafasku
Yang terengah-engah mengais setitik hidup yang hampir sirna
Aku letih ya Tuhan, biarlah aku melepasnya

Kini dari tepi sungai belerang
Engkau selalu meratapi sebuah batu
Batu kusam yang akan hilang oleh waktu
Kini dari tepi sungai belerang
Engkau selalu meratapi sebuah batu
Batu kusam yang akan hilang oleh waktu...

WaLaUpUn KaU JaUh DimAtA..
TaPi KaU tEtAp DihAtIku....